"Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah."
10 notes
Halo teman-teman!
Ada yang mau liburan gratis ke Belanda? Ikuti lombanya dan kami tunggu di Den Haag ya :)
Reblogged from laksmilarastitiKasus seperti ini akan terjadi jika sang ayah adalah ayah yang cuek dan kurang perhatian pada anaknya.
Meski ibu memiliki fitrah alami mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang lebih bagi anaknya, tetap sang ayah juga harus memiliki porsi yang sama dalam memberikan asupan ini.
Seorang anak memiliki dua bagian di hatinya. satu bagian milik ayahnya satu bagian lagi milik ibunya. Dan idealnya keduanya diisi sesuai dengan fitrahnya. Anak yang mendapatkan perhatian dari keduanya, akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik.
:)
Reblogged from kuntawiajiTo travel is to live. - HC Andersen
Someday, i will ..
Reblogged from ceritasebelumtidurtemen-temen ciwi, tau gak kalo Allah ngasih kita 3 potensi besar :
1. Potensi Ruhiyah
2. Potensi Fikriyah
3. Potensi Jasadiyah
nanti kapan-kapan pengen deh sharing apa yang dibaca tentang apa saja potensi-potensi yang harus kita kembangkan tersebut.
tapi kali ini saya pengen cerita tentang ZUMBA DANCE . hampir sebulan ini, saya join di satu kelas zumba dance bareng ibu-ibu dan mba mba gaul.
Alasanya : saya pengen hak tubuh saya terpenuhi. dan olahraga indoor adalah pilihan yang tepat.
ngerasain banget satu tahun ga olahraga berefek ga oke ke badan. kesibukkan setahun itu ngebuat waktu ga bisa berkompromi untuk sekedar menunaikan hak tubuh. Hingga akhirnya saya meniatkan diri untuk ikut kelas ZUMBA DANCE.
Olahraga menari adalah salah satu bentuk olahraga paling efektif karena bisa membakar kalori 500-1000 kal. Dan saya jatuh cinta. Meski ga lantas membuat kiloan saya turun. tapi saya merasa senang. Ternyata menari adalah salah satu cara merangsang tubuh kita untuk memproduksi hormon endorfin. Hormon endorfin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang, diproduksi oleh kelenjar pituitary yang terletak di bagian bawah otak sehingga menimbulkan perasaan senang dan kita jadi berenergi.
Zumba dance masuk ke indonesia, sekitar tahun 2011. Olahraga tarian ini mirip-mirip tarian latin ala J-LO. ZUMBA DANCE adalah olahraga yang memiliki high impact dan bagus buat jantung. seru deh pokoknya. nah selama ini saya ikut kelas sama mba mba atau ibu-ibu kece, dan dikasih banyak masukan untuk membiasakan diri buat olahraga. dan memang saya sendiri sangat suka berolahraga dari kecil, jadi meniatkan diri untuk selalu menjadikan olahraga aktivitas sebagai pemenuhan hak tubuh.
Selain ikut kelas itu, saya juga suka main hula hup.. hap hap hap..
Seru banget main hula hup, kalo di rumah lagi jenuh. sekitar 15 menit main hulahup sudah membuat badan cukup berkeringat.
Gaya hidup jaman sekarang membuat berbagai macam penyakit bisa menyerang kita kapan saja. dengan berolahraga adalah salah satu usaha yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyakit tersebut. Olahraga ga cuma bagus buat jasmani, tapi juga buat jiwa kita.
Nah, seperti yang disebutkan, olahraga adalah salah satu hak tubuh kita selain makan dan beristirahat, ternyata olahraga juga sarana bagi kita ciwi-ciwi untuk memanfaatkan potensi jasadiyah yang sudah Allah berikan kepada kita. jadi sudah sewajarnya kita mampu menunaikan hak-hak tersebut.
Semoga istiqomah.
Salam Olahraga!
:)
)(photo credit: What is Isra and Mi’raj? Islamographic by @myadlan )
Ada artikel menarik dari ustad Salim A. Fillah yang berjudul “Ekstase Mi’raj), tentang memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj :))
Sekiranya ku menjadi Muhammad
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ’Arsyi
-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.
Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..
Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.
Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..
Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja. Selama-lamanya.
Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu.
Tetapi justru di situlah salahnya.
Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.
Coba tengok perjalanan mi’raj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan beban telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika sang Rasul merasakan puncak kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak, seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang kita maknai dari perjalanan mi’raj adalah, bahwa ia sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanannya. Bekal perjuangannya.
Mi’raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan ruhani yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh bertolak belakang. Jika Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan hidupnya, Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan iapun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan diri ke kancah zaman.
Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka merasa lelah, merasa lemah, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan kerja da’wahnya tiada tara itu memang mendapat mi’raj istimewa; langsung menghadap Allah ’Azza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanya, ”Saat mi’raj seorang mukmin adalah shalat!”
Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.
Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, ”Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!”
Berhala Kekhusyu’an
Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase.
Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu kekhusyu’annya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam.
Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyu’an. Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan Allah.”
♥♥♥
Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyu’an bukan karena mencarinya. Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang. Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.
Seperti para penyembah Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kekhusyu’an juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak salah juga meneladani ’Abbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’?
Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jama’ahnya. Kekhusyu’an yang tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn ’Ali dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya.
Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam ruku’. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci.
Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan ruhani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memangil-manggil.
Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat khusyu’ di atas sajadah mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa diatur berganti-ganti. Khusyu’ adalah menikmati bacaan imam bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di
sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling dicintai Allah. Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. Tak pernah hatinya tergetar melihat nestapa sesama. Orang-orang semacam si Sufi dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang merasa aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat di depan pelupuk pemburu.
Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an. Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang beroleh kemungkinan merasakan ekstase macam itu. Tanyakan pada seorang beragama Budha, penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga. Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan rerupa puja. Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan Kristus. Seorang Nasrani dari Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.
Bukan itu.
Bukan itu yang kita cari.
Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya. Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah..
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia pasti melihatmu..sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
Reblogged from tyasherfiPerkenalkan..
aku, manusia yang hidup dengan ide dan pemikiran masa depanya.
otak kanan yang sangat kinestetik.
semoga kelak siapapun yang akan bekerja sama denganku, kita bisa saling melengkapi. memadukan potensi untuk jadi partner yang hebat.
:D
4 notes
Bagiku simpel saja, modal bagi seorang manusia untuk sukses dalam menjalani hidup adalah mengenal diri. Banyak orang yang akhirnya merasa tidak bahagia, karena ia tidak mengenal dirinya sendiri. atau lebih parahnya bahkan ia tidak tau mengapa ia dilahirkan ke dunia ini. Alasanya satu, karena mereka tidak mencari tahu, siapa diri mereka dan mengapa mereka dilahirkan ke dunia.
Mengenal diri sendiri adalah aktivitas paling menyenangkan. Kita dituntut menjadi seorang psikolog pribadi untuk dapat menelaah kelebihan dan kekurangan diri.
pertanyaanya :
setua ini, sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? atau sudahkah kita tahu mengapa saat ini kita masih hidup dan untuk apa kita hidup?
“BARANGSIAPA MENGENAL DIRINYA MAKA IA AKAN MENGENAL TUHANNYA”
siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan tahu MENGAPA ALLAH MENAKDIRKAN SEORANG HANI LAHIR KE DUNIA?
jawabanya adalah:
temukan POTENSI mu, dengan cara apa? eksplore diri dan aktualisasi diri. KELUAR dari comfort zone mu, tapi TANTANGLAH dirimu untuk keluar dari zona nyaman. LIHAT bahwa ternyata DIRIMU lebih HEBAT dari yang kamu kira.
seperti lirik lagu terhebat nya coboy junior
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi….
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karenaHarus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takutYakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat
4 notes